Hati Yang Tergores


Pada suatu hari sekitar jam tiga sore, tiba-tiba di Rumah Amalia kedatangan seorang perempuan muda. Penampilannya modis dan trendy namun cukup berpendidikan dilihat dari cara bicaranya. Mendengar penuturannya dengan suara terbata-bata dan berlinangan air mata bahkan hampir saja memilih jalan untuk bunuh diri karena merasa sudah tidak sanggup menghadapi hidup ini. Sampai membiarkannya menumpahkan isi hatinya. Dalam penuturannya berkisah tentang bahtera rumah tangga diterjang ombak kehidupan membuat hatinya tergores perih, membuatnya terluka.

Diawal pernikahannya, dirinya dan suaminya menikmati indahnya pernikahan. Selama lima tahun pernikahannya sangatlah manis dan penuh kebahagiaan sampai kemudian dirinya mengetahui bahwa suami yang dicintainya terseret ‘affair’ dengan teman sekantornya. Suatu ketika dirinya dan suami sedang perang dingin akibat akumulasi masalah yang berlarut-larut. Disaat itu suaminya ternyata mendapat perhatian dan teman curhat. Teman perempuannya itu seolah menjadi ‘penyelamat’ bagi suaminya. Menjadi pendengar yang baik dan penuh perhatian sampai terjadi hati suaminya bergetar dan lama kelamaan makin berkembang dan tidak lagi mengeremnya.

Sampai kemudian gosip perselingkuhan itu menjadi perbincangan seluruh kantornya dan dirinya adalah orang yang terakhir mendengar gosip perselingkuhan yang dilakukan istrinya. Dunia terasa seperti kiamat. Rumah tangganya goyah dan tidak sanggup lagi bagaimana cara mengatasinya. Air matanya mengalir tak kuasa dibendungnya. Istri saya menyediakan teh hangat dan kue kering. Mempersilahkan untuk menikmatinya. Ia menganggukkan kepala sambil meminum secangkir teh hangat.

Saya bertanya padanya, Apakah Ibu bisa membaca al-Quran? Ia mengatakan tidak begitu lancar membaca al-Quran. Kemudian saya bertanya kembali, ‘Apakah Ibu pernah menjalan sholat tahajud?’ Ia menjawab hampir tidak pernah sama sekali. ‘Jangankan sholat tahajud Pak Agus, sholat lima waktu aja saya jarang melaksanakan.’ ucapnya lirih.

Mendengar penuturan itu saya sampaikan kepadanya, Ibu sebenarnya Allah sayang kepada Ibu, bahtera rumah tangga ibu dengan diterjang ombak. Allah menginginkan agar Ibu mendekatkan diri padaNya. Ketika ibu dipanggil oleh Allah Ibu sibuk dengan kegiatan sendiri sampai kemudian ombak itu datang menterjang rumah tangga ibu. Saya yakin ibu mampu mengatasi masalah ini. Bangunlah rumah tangga dengan pondasi ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Insya Allah, Rumah tangga masih bisa diselamatkan. Suami masih bisa kembali kepada keluarga. Ajak suami untuk beribadah kepada Allah agar keluarga senantiasa mendapatkan keberkahan.’

Sebulan kemudian Ibu dan suaminya datang ke Rumah Amalia, dengan wajah tersenyum. Kebahagiaan karena telah melewati terjangan ombak pada keluarganya dan yang paling utama adalah telah menyadarkan betapa pentingnya pondasi ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi keluarganya. ‘Alhamdulillah, saya dan suami sudah berkumpul kembali. Kami sama-sama instropeksi diri kekurangan-kekurangan kami selama ini jauh dari Allah. Masalah ini kami semakin meningkat ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan yang paling penting sholat lima waktu tidak pernah terlewatkan bagi kami berdua.’ tuturnya. Subhanallah..


‘Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki yang tidak disangka-sangkanya.’ (QS. ath-Thalaq: 2-3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s