Penyesalan itu,…


Saya dan sampeyan semua pasti pernah mengalami yang namanya menyesal. Rasanya gak enak. Bukan penyesalannya yang gak enak, namun rasa kecewa yang mendahului penyesalan itulah yang mbikin gak enak.

Seorang tetangga yang sudah mendahului ke alam barzah pernah mengupas perihal penyesalan ini berdasarkan durasinya. Dari durasi yang pendek sampai kepada yang panjang dan lama. Beliau menerangkan berulang-ulang perihal bab penyesalan ini di mimbar Kultum selepas sholat Isya. Sampai pendengarnya blokekan (pengen muntah) dan ngedumel…. “Halah, bola-bali iki wae. Nyetel kaset sampe nglokor…”

Di antaranya beliau menerangkan begini :

Penyesalan itu ada beberapa jenis. Dimulai dari durasi yang terpendek adalah sebagai berikut :

1. Penyesalan sehari.
Ini adalah penyesalan ibu-ibu yang salah bumbon dalam masak sayur. Maunya sayur asin malah jadi kasinen. Maunya sayur asem malah jadinya cuka. Maunya mbikin nasi goreng, jadinya malah intip goreng. Ya sudah, nyeselnya sehari itu. Kesalahannya cuma beberapa detik, tapi nyeselnya seharian.

2. Penyesalan seminggu.
Ini penyesalannya bang kumis yang salah model potongan kumisnya. Maunya nyompok macem Einstein, malah salah kedaden jadi kayak Saddam Husein. Maunya nglewer kayak Thompson bersaudara, malah nemplok kayak Hitler. Yah.. akhirnya nunggu seminggu nunggu sang kumis numbuh. Kesalahannya beberapa menit, nyeselnya mingguan.

3. Penyesalan Sebulan.
Ini penyesalannya orang yang salah cukur. Lha cukur kok petakilan, kegunting godegnya mbablas jadi peang… Yo wis.. Nyesel. Kalo mau ngreparasi model yang mbejaji, ya nunggu sebulanan, bahkan bisa lebih. Tergantung rambutnya ini model rambut jagung apa rambut geni…

4. Penyesalan setengah umur.
Ini penyesalan orang yang salah milih isteri. Lha milih isteri cuma dilihat dari penampakan dhohir thok. Nggaya, maunya yang ireng manis. Setelah manisnya ilang tinggal irengnya thok…. nyesel. Pokoke salah niat cari isteri. Lupa kalo manusia itu bosenan. Lha nyari isteri kriterianya gak permanen. Akhirnya setelah bosen, hidupnya penuh penyesalan. Ujung-ujungnya nyari lagi. Yang perempuan nyari brondong, yang laki nyari bronjong, yang bencong nyari brondjong.

5. Penyesalan tiada batas.
Ini penyesalan karena salah milih agama. Semua agama mengajarkan bahwa ajarannya baik, dan orang yang diluar agama itu akan celaka hidupnya. Apakah akhirnya semuanya nanti selamat?? Ini pertanyaan yang baru akan terjawab entar di akherat. Yang jelas nanti akan ada yang salah pilih agama yang akan menyesal tiada batas. Biar gak menyesal gimana?

Allah Maha Adil. Kebenaran itu bisa ditelusur. Panca indera, hati dan akal pemberian-Nya ini bisa mendeteksi kebenaran itu. Jadi kalo sampe gak nemu kebenaran, maka jelas panca indera, hati dan akal kita akan dituntut. Karena mesti ada salah satu atau lebih yang berkhianat dan menipu dirinya sendiri sehingga kita tidak menemukan kebenaran itu. Atau sudah nemu tapi ketutupan. Ada yang ketutupan gengsi, ada yang ketutupan harga diri (yang palsu), ada yang ketutupan duit, ada yang ketutupan pengikut, ada yang ketutupan dalan bayi, dan lain sebagainya.

Maka gunakanlah segala piranti pemberian Allah ini untuk mencari yang benar itu, karena PASTI BISA. Dan untuk penyesalan yang terakhir ini tak bisa diperbaiki sama sekali.

Ada kisah 3 orang yang terjebak di dalam satu goa yang gelap, saking gelapnya hanya bisa grayak-grayak. Lalu ada suara yang memberitahu mereka bertiga, “Ambillah sebanyak-banyaknya batu di goa ini. Karena barangsiapa yang tidak mengambinya akan menyesal. Dan barangsiapa yang mengambilnya juga akan menyesal.”

Maka orang pertama berpikiran, “Ambil sajalah. Ha wong perintahnya disuruh ngambil sebanyak-banyaknya.” Maka dia ambil yang banyak.

Orang kedua bingung, ngambil nyesel, gak ngambil juga nyesel. Maka dia ambil sedikit. Maju mundur merkengkong.

Orang ketiga masa bodo. Ha wong ngambil dan gak ngambil sama-sama nyeselnya, ngapain harus ngambil. Dia gak peduli akan isi perintah untuk mengambil sebanyak-banyaknya.

Maka tiba-tiba mereka bertiga menemukan pintu goa itu. Segera mereka keluar. Setibanya di luar pintu goa runtuh, dan menutup jalan masuknya. Lantas mereka bertiga mencoba melihat apa yang sebenarnya mereka ambil itu. Ternyata emas.

Yang ngambil banyak nyesel, kok gak lebih banyak lagi ngambilnya. Yang ngambil dikit nyesel sak pole. Yang gak ngambil langsung turun berok. Ini semua ibarat. Goa itu adalah masa hidup kita. Emas itu adalah amal sholehnya. Yang amal sholeh saja masih nyesel, apalagi yang membiarkan hidupnya lewat tak berguna,..

from : ^NAS^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s